Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Rekayasa Escherichia coli

 

Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia yaitu diare berdarah karena eksotoksin yang dihasilkan bernama verotoksin. Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa adenin dari unit 28S rRNA, sehingga menghentikan sintesis protein. Sumber bakteri ini contohnya adalah daging yang belum masak, seperti daging hamburger yang belum matang. E. Coli yang tidak berbahaya dapat menguntungkan manusia dengan memproduksi vitamin K2, atau dengan mencegah baketi lain di dalam usus. E. coli banyak digunakan dalam teknologi rekayasa genetika. Biasa digunakan sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. E. coli dipilih karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya.
            Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak mempunyai efek terhadap kesehatan, dapat dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dapat menurunkan emisi bila dibandingkan dengan minyak diesel.  Biodiesel merupakan suatu nama dari Alkyl Ester atau rantai panjang asam lemak yang berasal dari minyak nabati maupun lemak hewan. Biodiesel tidak mengandung petroleum diesel atau solar. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidro karbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.
Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi dimana gliserin dipisahkan dari minyak nabati. Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil ester (biodiesel)/mono-alkyl ester dan gliserin yang merupakan produk samping. Bahan baku utama untuk biodiesel antara lain minyak nabati, lemak hewani, lemak bekas/lemak daur ulang. Semua bahan baku ini mengandung trigliserida, asam lemak bebas (ALB) dan zat pencemar dimana tergantung pada pengolahan pendahuluan dari bahan baku tersebut. Sedangkan sebagai bahan penunjang adalah alkohol.
Pada pembuatan biodiesel dibutuhkan katalis untuk proses esterifikasi, katalis dibutuhkan karena alkohol larut dalam minyak. Alkohol yang digunakan sebagai pereaksi untuk minyak nabati adalah methanol, dapat pula digunakan ethanol, isopropanol atau butyl, tetapi perlu diperhatikan juga kandungan air dalam alkohol tersebut. Apabila kandungan air tinggi maka akan mempengaruhi hasil biodiesel kualitasnya rendah, karena kandungan sabun, ALB, dan trigliserida tinggi. Selain itu hasil biodiesel juga dipengaruhi oleh tingginya suhu operasi proses produksi, lamanya waktu pencampuran atau kecepatan pencampuran alkohol.
Katalisator dibutuhkan pula guna meningkatkan daya larut pada saat reaksi berlangsung, umumnya katalis yang digunakan bersifat basa kuat yaitu NaOH atau KOH atau natrium metoksida. Katalis yang akan dipilih tergantung minyak nabati yang digunakan, apabila digunakan minyak mentah dengan kandungan ALB kurang dari 2%, disamping terbentuk sabun juga terbentuk gliserin. Katalis tersebut pada umumnya sangat higroskopis dan bereaksi membentuk larutan kimia yang akan dihancurkan oleh reaktan alkohol. Jika banyak air yang diserap oleh katalis maka kerja katalis kurang baik sehingga produk biodiesel kurang baik. Setelah reaksi selesai katalis dinetralkan dengan penambahan asam mineral kuat. Setelah biodiesel dicuci proses netralisasi juga dapat dilakukan dengan penambahan air pencuci, HCl juga dapat dipakai untuk proses netralisasi katalis basa, bila digunakan asam phosphat akan menghasilkan pupuk phosphat (K3PO4).
Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, mengurangi hidrokarbon yang tidak terbakar, karbonmonoksida, sulfat, polisiklikaromatik hidrokarbon, dan hujan asam. Sifat - sifat yang terdapat di biodiesel yaitu : dapat diperbarui (renewable), mudah terurai oleh bakteri (biodegradable), ramah lingkungan menurunkan emisi (CO, CO2, SO2).
            Untuk memproduksi biofuel konvensional, para produsen memiliki dua strategi yang diterapkan. Strategi pertama ialah menanam tanaman yang mengandung gula semisal tebu, bit gula, dan sorgum manis atau tanaman yang kaya kandungan pati, seperti jagung. Pemilihan tanaman-tanaman yang mengandung gula dan pati berdasarkan alasan tanaman-tanaman tersebut mengandung glukosa yang jika difermentasikan dengan ragi dapat menghasilkan etil alkohol. Strategi kedua, menanam tanaman-tanaman yang berkadar minyak nabati tinggi, seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau jathropa. Apabila dipanaskan, kekentalan minyak nabati akan berkurang dan dapat langsung dibakar di dalam mesin, tepatnya mesin diesel. Namun, agar dapat beradaptasi penuh dengan mesin diesel, bahan bakar hayati dari minyak nabati itu harus diproses secara kimia hingga menjadi biodiesel. Peneliti dari pusat penelitian bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yopi, mengatakan pada pembuatan biofuel konvensional, bakteri berperan sebagai perombak susunan struktur kimiawi dari biomassa sehingga dapat dikonversi menjadi bahan bakar hayati. ”Misalkan pada tumbuhan pati, agar dapat menjadi etanol, maka susunannya direkayasa dengan penambahan bakteri perombak,” jelasnya. Meski cukup efektif menghasilkan etanol, proses tersebut memakan waktu lama dan menghabiskan dana besar.
Menurut Dwi Sulistyaningsih, peneliti dari pusat penelitian bioteknologi LIPI, untuk dapat menciptakan biofuel murni yang memiliki titik nyala 70 hingga 80 persen, dibutuhkan proses penyulingan lebih dari empat kali. ”Umumnya, dalam satu kali penyulingan menggunakan mikroba hanya menghasilkan 40 sampai 60 persen etanol,” ujarnya. Proses yang panjang itulah yang coba dipangkas agar tercapai efisiensi.
            Pemanfaatan E.coli bukan ditujukan sebagai bakteri perombak asam lemak nabati pada tumbuhan, tetapi sebagai sumber asam lemak untuk biodiesel. Asam lemak merupakan sebuah molekul kaya energi yang ditemukan dalam minyak nabati dan hewani. E.coli dapat secara alami mensintesiskan asam lemak dan relatif mudah untuk diubah secara genetik. Hal itu membuat bakteri temuan Theodor Escherich tersebut menjadi mikroorganisme ideal untuk penelitian biofuel. Bekerja sama dengan Eric Steen, ahli biologi JBEI (Joint BioEnergy Institute), Keasling menggunakan reaksi biokimia untuk memproduksi struktur biodiesel, alkohol, dan lilin langsung dari ekstrak E.coli.
            Untuk menghasilkan bioetanol dari Escherichia coli sebagai alternatif biodisel dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu metode transesterifikasi dan fermentasi.
1.    Metode Transesterifikasi
Biodiesel diperoleh dari trigliserida minyak nabati melalui proses transesterifikasi. Proses ini dilakukan dengan mereaksikan minyak nabati, alkohol (metanol), dan katalis sehingga dihasilkan ester yang sifat fisiknya mirip dengan minyak solar.
Reaksi umum yang terjadi adalah sebagai berikut:
WVO(waste vegetable oil) + Metanol <-> FAME + Gliserin
Reaksi tersebut berlaku reversibilitas, sehingga kita bisa meningkatkan laju reaksi ke kanan yang berarti akan memberikan kita kesempatan untuk peningkatan hasil FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang diinginkan, dua hal yang bisa dilakukan adalah menambahkan konsentrasi metanol dan mengurangi/mengambil gliserin.
Dalam proses transesterifikasi dibutuhkan sejumlah metil alkohol dan KOH yang dicampur pada tangki reaktor kurang lebih 10 menit hingga KOH terlarut dengan sempurna. Proses pertama transesterifikasi adalah pemurnian Escherichia coli ATCC 11303. Tahap pemurnian ini menggunakan air yang mengandung zat asam. Larutan ini dapat diperoleh dengan mencampur asam asetat (CO3COOH) dengan air (H2O).
Perbandingan campuran adalah 40% dari Escherichia coli. Air dengan kandungan asam tersebut berfungsi untuk mengeluarkan angin didekat dasar tangki sehingga gelembung-gelembung dan udara terangkat. Setelah melalui tahapan pada proses tersebut maka akan dihasilkan bioetanol murni dan gliserin. Hasil dari proses pemurnian tersebut kemudian dimasukkan Waste Cooking Oils (WCO) ke dalam reaktor dengan menambahkan 25% (dengan volume WCO) etanol murni dan KOH dalam berbagai variasi konsentrasi. Variasi konsentrasi KOH/liter WCO adalah  6,00 gram; 6,25 gram; 6,50 gram; dan 6,75 gram.
Tahapan kedua memanaskan sampel dalam reaktor dengan variasi suhu 48oC, 60oC, dan 65oC, selama 50 – 60 menit. Variasi tekanan dikombinasikan dengan variasi suhu kemudian didiamkan selama 12 jam. Larutan kemudian menjadi potasium metoksida. Minyak nabati kemudian dialirkan atau ditransfer ke reaktor utama untuk menghasilkan minyak nabati atau biodiesel yang diinginkan Tangki reaktor harus disesuaikan untuk mempercepat determinasi volume.
Metoksida kemudian dialirkan kedalam reaktor dan proses pencampuran pun dimulai. Dalam proses esterifikasi ini dibutuhkan waktu kira-kira 60 menit. Ester kemudian ditransfer dengan pompa atau secara grafitasi kedalam tangki penampungan. Setiap bak memproduksi kurang lebih 500 liter per hari oleh sebab itu harus disiapkan dua bak dalam sehari.
Tahapan ketiga adalah pengambilan sejumlah gliserin dari hasil tahapan pertama dan kedua, kemudian menuangkan kembali biodiesel yang dihasilkan ke dalam reaktor dan ditambahkan metanol dari sisa proses pertama dan kedua dengan jumlah yang sama pada tahapan pertama juga pemberian katalis KOH, yang ditujukan untuk meningkatkan tingkat kemurnian biodiesel.
2.    Metode Fermentasi
Proses fermentasi dilakukan melalui proses hidrolisis. Hidrolisis enzimatis dari material mentah dan fermentasi hidrolisis gula dapat dilakukan terpisah atau secara bersamaan. Dua proses hidrolisis yang digunakan adalah SHF (separate hydrolysis and fermentation) atau SSF (simultaneous saccharification and fermentation). Susunan proses SSF secara umum mempertimbangkan keuntungan dari penurunan harga produksi etanol. Secara keseluruhan, hasil yang lebih menguntungkan adalah dengan menggunakan thermostable enzyme dalam proses hidrolisisnya.
Pada tahapan metode fermentasi, Escherichia coli ATCC 11303 yang membawa plasmid pLOI297 diletakkan dalam medium dengan pendinginan (-200C) dalam 40% gliserol dan pertumbuhan medium yang kompleks mengandung 2% glukosa dan 10 mg/L tetracyclin. Mediumnya terdiri dari trypton (10 g/L), ekstrak ragi (5 g/L) dan NaCl (5 g/L). Fermentasi dilakukan pada medium tersebut dengan menggunakan larutan buffer potassium fosfat (pH = 7) pada konsentrasi akhir 0,2 M.
Fermentasi dari glukosa (5g/L), xylosa (80g/L) dan arabnosa (5g/L) dibuat dengan 42,5g/L ethanol selama 96 jam yang menghasilkan 0,49 alkohol per 1 gram gula menggunakan Recombinant Escherichia coli. Konsentrasi glukosa, xylosa dan arabinosa dalam proses hidrolisis dapat dikembangkan untuk teknologi konversi biomassa pada produksi  fuel etanol menggunakan ethanologenik E.coli.
Untuk menghasilkan etanol dari fermentasi dapat dilakukan variasi konsentrasi yaitu glukosa dan xylosa (80g/L, 100g/L, 120g/L). Semakin banyak konsentrasi glukosa dan xylosa yang terkandung pada ethanologenik E.coli maka semakin banyak etanol yang dihasilkan. Dua proses hidrolisis tersebut dapat digunakan dengan metode SHF (separate hydrolysis and fermentation) atau SSF (simultaneous saccharification and fermentation).
Para ahli menginjeksikan gen yang dapat membuat E.coli mengeluarkan enzim yang biasa bertugas memecah material terkuat dalam tumbuhan, yaitu enzim selulosa atau lebih spesifiknya hemiselulosa. Enzim itu akan memproduksi gula yang dibutuhkan untuk proses pembuatan biodiesel dan bisa dikatakan enzim tersebut merupakan biomassa selulosa.
Karena modifikasi itulah E.coli dapat memproduksi biodiesel secara langsung dari tubuhnya. Hal itu membuat proses distilasi dan purifikasi bisa dipangkas. ”Sebagai perbandingan, apabila menggunakan lemak atau minyak dari tumbuhan, maka harus melewati proses esterifikasi terlebih dahulu sebelum dapat digunakan,” jelas Keasling. Lebih jauh, Keasling menerangkan proses pengkloningan gen berasal dari Clostridium stercorarium dan Bacteroides ovalus (bakteri yang tumbuh subur di tanah dan usus binatang herbivora) yang memproduksi enzim pemecah selulosa.
Para peneliti juga menambahkan kode genetik tambahan untuk membentuk asam amino pendek agar E.coli dapat mengeluarkan enzim hemiselulosa dan mengubahnya menjadi gula. Gula itulah yang kemudian diolah menjadi biodiesel. Proses tersebut memang terbilang sempurna untuk pembuatan hidrokarbon, namun belum bisa mencapai tahap pembuatan bensin. Karenanya, para peneliti kini bermaksud memaksimalkan efisiensi dari pengolahan modifikasi turunan Escherichia coli. Mereka juga telah mengeksplorasi berbagai cara untuk meningkatkan jumlah biodiesel yang diproduksi dari reaksi tunggal.

Kesimpulan

            Biodiesel merupakan energi alternatif yang digunakan untuk menggantikan petroleum diesel. Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi dimana gliserin dipisahkan dari minyak nabati. Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil ester (biodiesel)/monoalkyl ester dan gliserin yang merupakan produk samping. Bahan baku utama untuk biodiesel antara lain minyak nabati, lemak hewani, lemak bekas/lemak daur ulang. Dan sebagai bahan penunjang adalah alkohol. Kualitas biodiesel dipengaruhi oleh kandungan air dalam alkohol, apabila kandungan airnya tinggi maka kualitas biodiesel yang dihasilkan rendah, karena kandungan sabun, ALB (asam lemak bebas) dan trigliserida tinggi.
Escherichia coli hasil rekayasa dapat mengubah bahan alam menjadi biodiesel. Dapat dilakukan dengan dua metode yaitu transesterifikasi dan fermentasi. Bakteri E.coli hasil rekayasa dapat menyintesa dan memproduksi enzim hemiselulosa (enzyme hemicellulose). Dengan enzim hemiselulosa bakteri E.coli mampu menguraikan selulosa menjadi gula. Selanjutnya bakteri akan mengubah gula menjadi bahan bakar biodiesel. Secara alami, bakteri E.coli mengubah gula menjadi asam lemak untuk membentuk membran sel. Proses tersebut memang terbilang sempurna untuk pembuatan hidrokarbon, namun belum bisa mencapai tahap pembuatan bensin. Karenanya, para peneliti kini bermaksud memaksimalkan efisiensi dari pengolahan modifikasi turunan Escherichia coli. Mereka juga telah mengeksplorasi berbagai cara untuk meningkatkan jumlah biodiesel yang diproduksi dari reaksi tunggal.

Referensi   :


http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/12/03/rekayasa-e-coli-untuk-pembuatan-biodiesel/
http://bandengjuwana.blog.uns.ac.id/2010/05/27/proses-pembuatan-biodiesel/
http://id.wikipedia.org/wiki/Escherichia_coli
http://mic.sgmjournals.org/content/152/9/2529.full
www.oocities.org/markal_bppt/publish/biofbbm/biraha.pdf

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Haunebu

[Image: soviet-ufo-6-types.jpg]

[Image: saucers-007.gif]

Haunebu adalah salah satu dari beberapa varian tipe lain dari UFO Nazi. Teknologi Nazi selain Haunebu dan Vrill ialah RFZ (Rundflugzeug), Feuerball, Diskus, Andromeda-Gerate, Flugkreisel, Kugelwaffen, Reichsflugscheiben, Vrill, dan Kugelblitz (anti aircraft tank).

Haunebu, atau dengan kata lain adalah Hauneburg-Gerate (H-Gerat) adalah sebuah kendaraan yang dibuat oleh Jerman dengan bentuk yang tidak umum. Berbentuk seperti lonceng, dan mampu melesat dengan kecepatan tinggi. Haunebu sendiri dibuat dengan berbagai macam seri, Haunebu I sampai Haunebu IV.

Pada tahun 1925, Adolf Hitler dari partai Nazi, membentuk sebuah badan paramiliter yang disebut dengan Schutzstaffel. Schutzstaffel atau yang dikenal dengan SS memiliki banyak sekali macamnya dengan fungsi yang berbeda-beda, dari militer sampai dengan ekonomi dan administrasi. Adapun kepanjangan lain dari SS adalah Schwarze Sonne atau dengan kata lain "Black Sun".
Logo S.S:
[Image: nazi-ss-logo.jpg]

SS yang konon menganut paham okultisme dan dikembangkan oleh "Order of Black Sun" ini bertugas untuk menciptakan energi baru untuk persenjataan. Sebuah energi yang mengantarkan mereka kepada keantigravitasian. Pekerjaan mereka kurang lebih ialah seperti ini :
"Mengembangkan energi alternatif dan sumber bahan bakar melalui proses gasifikasi batubara dengan teknologi yang rumit dan penciptaan generatornya, meneliti bahan bakar bibit alkohol serta mengembangkan perputaran oksigen cair, turbin reaksi total, dan penggerak propulsi udara independen (Air Propultion Independent motor- AIP) dan Electro-Machine-Gravitic"

Salah satu proyek mereka adalah pengadaan mesin tempur yang bernaha H-Gerat, H Device atau yang lebih dikenal dengan Haunebu.

[Image: haun1.jpg]
Thule Triebwek (Tachyonator-7). Salah satu perangkat terpenting dalam Haunebu

Sejarah penamaan Haunebu
SS E-IV (Entwicklungsstelle 4) menciptakan apa yang disebut dengan "electric-magnetic-Gravitic engine" atau EMG. Dengan digabungkannya EMG dengan perangkat mesin energi bebas Hans Cooler lalu menjadi sebuah energi konverter dan dipasangkan pada sebuah Van De Graaf band generator "plus" Marconi vortex dynamo (tanki bulat untuk merkuri), sehigga terciptalah rotasi penuh pada medan eletrik yang mampu meredam bobot dan mempengaruhi gravitasi pada device nya. Perangkat tersebut kemudian di uji cobakan pada mesin bercakram buatan yang didesain oleh kelompok Thule. Lokasi percobaannya terletak di daerah Barat Laut Jerman yang bernama Hauneburg. Sehingga, nama cakram yang telah didesain oleh masyarak Thule tersebut dipercaya bernama Hauneburg Device atau H-Gerat, atau Haunebu berdasarkan lokasi uji cobanya.

Jika pembaca pernah menyimak atau mungkin pernah mendengar mengenai Nazi, bisa jadi Anda juga tahu bahwa Hitler sangat menjunjung tinggi ras Arya

Bagi Hitler, ras Arya adalah ras yang agung dan paling pantas hidup di muka Bumi. Partai Nazi Okultisme percaya bahwa masyarakat Thule adalah orang-orang dari ras Arya terdahulu. Hal itu didasari atas temuan sebuah buku misterius "Oera Linda Book". Meskipun keaslian buku itu sepertinya masih diperdebatkan.


[Image: 441px-Manuscript_Thet_Oera_Linda_Bok,_pagina_48.jpg]
Oera Linda Book halaman 46

Thule Society atau masyarakat Thule, adalah sekelompok rahasia yang didirikan tahun 1911. Konon, masyarakat ini diketuai oleh Walter Neuhaus. Sayangnya, mengenai Walter Neuhaus saya kurang mendapatkan datanya lebih rinci selain "dugaan" bahwa ia adalah ketua masyarakat Thule.

Haunebu Gerat seri I mempunyai dua prototipe dengan diameter sepanjang 25 meter. Mampu mengangkut delapan kru. Haunebu mempunyai kecepatan yang menakjubkan, mungkin paling menakjubkan dari semua kendaraan pada era Perang Dunia, yaitu 4800 km per jam pada ketinggian rendah. Pada peningkatan selanjutnya, Haunebu mampu bergerak dengan kecepatan 17.000 km per jam, dan sanggup terbang selama 18 jam.

Untuk mengurangi panas karena gesekan yang diakibatkan oleh kecepatan tinggi, lapisan Haunebu dilapisi oleh bahan Victalen dobel. Jika Anda pernah membaca mengenai UFO Silinder Andromeda Gerat, maka Anda akan mendapati bahwa bahan victalen juga dipakai pada lapisan body UFO silinder.

Victalen dirancang oleh SS Metallurgist, SS rahasia yang yang konon handal dalam membuat "armor" untuk Haunebu dan Vril.
Haunebu I dilengkapi pula dengan persejataan yang disebut 60mm KraftStrahlKanone (KSK)
[Image: ha2.jpg]

[Image: hb200.jpg]

[Image: haun5.png]
[Image: hb201.jpg]

[Image: ha9.jpg]

[Image: hu2.jpg]

Spesifikasi Haunebu I
[Image: ha20.jpg]
Haunebu II dan Haunebu II DO-Stra (DOrnier-STRAtosphärenflugzeug)
Haunebu II diproduksi pada tahun 1942, hanya 5 buah saja produksinya. Masih merupakan karya kolaborasi antara SS E-IV (Entwicklungsstelle 4) dan Thule Society. Spesifikasinya memang tidak jauh beda, baik bentuk dan mesinnya, memang hanya seperti evolusi lain dari Haunebu I. Diameter yang dimiliki aialah 26 meter. Kecepatan yang dapat ditempuh antara 6000 sampai 21000 km per jam dengan ketahanan terbang 56 jam. Telah di tes sebanyak 106 kali.

Lalu apa beda Haunebu II dan Haunebu II DO-Stra?

Perbedaanya jelas pada ukuran. Haunebu II DO-Stra jauh lebih besar daripada tipe terdahulu, Diameter Do-Stra memiliki ukuran diameter 32 meter, sedangkan kecepatannya jelas lebih cepat, yaitu melebihi 21.000 km per jam. Kru yang bisa diangkut sebanyak 20 orang, kalau yang Haunebu II hanyalah dua orang. Semula dipilih dua pihak apakah Junkers ataukah Dornier yang menjadi tender, tapi akhirnya diputuskanlah Dornier yang menjadi tender pesawat yang kecepatannya mampu melebihi Haunebu II.

Spesifikasi Haunebu II
[Image: ha21.jpg]
Haunebu III Ostara
Haunebu ini diameternya berukuran 71 meter. Terbang pertama kali pada tahun 1945. Dibuat hanya satu unit saja. Mampu terbang dengan kecepatan antara 7000 sampai 41.000 km per jam. Konon, Haunebu ini mampu terbang sampai 7-8 minggu. Dengan pengendaranya ialah Jendral SS yang bernama Hans Kammler.
[Image: Dora_Museum_Bilder_10.jpg]
S.S General, Hans Kammler

[Image: Haunebu_3_.jpg]
Haunebu 3
Disebut pula sebagai Ostara atau Easter. Dimana Ostara sendiri ialah Dewi dari kepercayaan kuno Jerman. Dewi yang berasal dari Timur, Sang Kelahiran kembali, dan Sang Fajar.

Spesifikasi Haunebu III
[Image: ha22.jpg]

[Image: haun3.jpg]
Illustrasi mekanika Haunebu III[b]

[b]Bagaimana dengan Haunebu IV?
Haunebu IV sepertinya tidak pernah diwujudkan dalam kenyataan. Hanya berupa rancangannya saja yang ada pada tahun 1946.

Jika Haunebu IV berhasil direalisasikan, mungkin dalam kehidupan nyata bentuknya seperti yang diilustrasikan dibawah ini :
[Image: al302a.jpg]

Bagaimana dengan penampakan para Haunebu?

Seperti yang tertulis pada web milik Robert Dale Arndt. Jr, sebuah laporan yang diidentifikasikan sebagai Top Secret pada tahun 1959 dan akhirnya dipublikasikan pada tahun 1985, menyebutkan bahwa senator paling berpengaruh kala itu, Senator Richard Russell, mengaku berjumpa dengan benda cakram tengah terbang dengan kecepatan tinggi pada tanggal 4 Oktober 1955 saat ia hendak bepergian dengan dua rekannya:
"Satu disk naik hampir vertikal, pada kecepatan relatif lambat, dengan permukaan luarnya bergulir perlahan ke kanan, untuk ketinggian sekitar 6000 kaki, dimana kecepatan kemudian meningkat tajam seperti menuju ke utara. Disk terbang kedua terlihat melakukan tindakan yang sama sekitar satu menit kemudian."

Ruben Efron mengatakan kepada CIA bahwa objek (UFO) memberi kesan meluncur Tidak ada suara terdengar dan tidak ada knalpot terdengar, dan tidak ada pembuangan cahaya atau jejak terlihat oleh sayanya.
Setelah pertemuan itu, Senator Russell mengatakan kepada para lelaki yang ikut besamanya saat melihat UFO-UFO tersebut dari kereta:
"Kami melihat disk terbang dan aku ingin kalian melihatnya sehingga aku akan punya saksi"

Hanya saja, tidak disebutkan apakah UFO yang mereka bertiga lihat adalah Haunebu atau bukan. Yang jelas, teknologi Amerika belum memiliki hal yang demikian. Terlihat jelas pada keheranan Senator Russell.

Jadi, kita bisa tarik kesimpulan, bahwa kecuali Amerika, ada dua kandidat besar negara yang memiliki teknologi yang aneh. Jerman dan Rusia. Rusia menggunakan orang-orang Jerman dalam menciptakan UFO. Anda bisa meneliti kebenarannya dari sejarah UFO buatan Rudolf Schriever. Jadi, Jermanlah pemilik teknologi pesawat aneh yang dilihat oleh Senator Russell.

Lalu bagaimana dengan Amerika?
Amerika menciptakan Avro pada tahun 1953. Dan itupun diklaim oleh insiyur Jerman Georg Klein bahwasanya teknologi seperti yang dimiliki Avro, sudah dimiliki oleh Jerman sejak lama.

Jika misalkan pesawat aneh yang dilihat oleh Senator Russell adalah pesawat buatan Jerman, maka pesawat Jerman yang manakah yang dilihat? Apakah Haunebu, Vril, atau RFZ?
Beberapa bukti lain mengenai keberadaan pesawat dengan teknologi aneh pada era Perang Dunia II pun juga ada dan banyak. Salah satu berita yang paling terkenal ialah Battle of Los Angeles:
[Image: war_extra_la_examiner.gif]

[Image: Battle_of_Los_Angeles_LATimes.jpg]

[Image: fromnegLRG.jpg]

[Image: frommicroLRG.jpg]

Battle of Los Angeles terjadi pada bulan Februari tahun 1942. Alarm tanda bahaya tiba-tiba berbunyi, sebuah pesawat besar dengan beberapa obyek lain mendekati wilayah Los Angeles. Tidak kurang seribu empat ratus peluru ditembakkan, namun tidak ada satupun yang mempan pada pesawat aneh nan besar tersebut. Semula Jepang dianggap dalang dibalik itu semua. Namun Jepang menyangkal telah mengirimkan pesawat terbang di sekitaran los Angeles.
Setelah kekalahan Jerman pada era Perang Dunia II, pemerintah Jerman memutuskan untuk membakar semua dokumen mengenai kecanggihan teknologi mereka. Namun, ternyata ada beberapa desainer atau perancang pesawat militer Jerman yang diambil oleh negara lain.

Pada tulisan penutup ini akan sedikit singgung mengenai cara UFO untuk mampu terbang. Hal yang harus diperhatikan ialah, "bahwa tidak ada sistem mekanika yang benar-benar sama pada tiap UFO dengan bentuk yang berbeda."

Jika Haunebu menggunakan Tachyonator untuk melayang dan EMG-nya, maka beda lagi dengan "rancangan" UFO yang diciptaan Rudolf Schriever:
[Image: z3.jpg]
Pada pesawat tersebut menggunakan tiga jet pada baling-baling, dan dua jet untuk pendorong.

[Image: rs6.jpg]
Roket-roket yang ditempelkan pada baling-baling digunakan untuk mempercepat rotasi baling-baling sehingga mendorong pesawat ke atas. Sedangkan dua roket-roket yang ada pada bagian bawah pada samping kiri dan kanan, berguna untuk melesat kedepan.
Mekanisme Lazar Disc:
[Image: Lazar.gif]

Jadi kesimpulan dari mekanisme UFO ialah, jika kita ingin menyelidiki mekanisme UFO, UFO yang mana dulu yang akan diselediki mekanismenya, atau mekanisme UFO yang mana yang menggunakan sistem yang telah diselidiki. Sebab UFO berbentuk piringan atau cakram punya banyak sekali nama dan bentuk. Karena sejatinya, yang namanya UFO adalah kendaraan, dan kendaraan bentuk dan cara kerjanya pun bisa beda. Sebuah pesawat yang berbentuk piring-pun kalau kita tidak tahu namanya atau namanya tidak pernah disebutkan di internet atau sumber informasi apapun, maka secara sadar atau tak sadar, kita akan menyebut pesawat tersebut sebagai UFO. Kenapa demikian, karena kita sudah digiring perlahan-lahan untuk menganggap pesawat-pesawat aneh itu sebagai UFO dan buatan makhluk super cerdas yang non human. Cara mengontrol pikiran yang sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun yang lalu, seolah-olah menjadi udara yang tanpa kita sadari selalu kita hirup.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Lingkaran tanaman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sebuah pola lingkaran tanaman
 
Lingkaran tanaman (dari bahasa Inggris:Crop circles) adalah suatu pola teratur yang terbentuk secara misterius di area ladang tanaman, seringkali hanya dalam waktu semalam. Fenomena ini pertama kali ditemukan di Inggris pada akhir 1970, dengan bentuk pola-pola lingkaran sederhana. Pada masa-masa setelahnya, pola-pola tersebut kini cenderung bertambah rumit dan tidak terbatas hanya pada hanya bentuk lingkaran. Namun karena mengacu pada asal-usulnya, maka istilah lingkaran tanaman ini masih dipertahankan.
Mereka yang mempelajari fenomena lingkaran tanaman ini sering disebut juga dengan istilah "cerealogis", dan ilmu yang mempelajari fenomena ini disebut dengan cereolog. Para Cerealogis kemudian mengembangkan istilah baru untuk fenomena ini, yaitu agriglif.
Fenomena "lingkaran tanaman" seringkali dikait-kaitkan dengan isu UFO atau makhluk luar angkasa.

Fenomena di Indonesia

Pada hari Minggu tanggal 23 Januari 2011 pukul 17.00 WIB, pihak Kepolisian Republik Indonesia di sektor Sleman, Yogyakarta membenarkan munculnya lambang misterius berdiameter 70 meter yang dicurigai terkait dengan isu UFO atau makhluk luar angkasa yang dikenal dengan sebutan lingkaran tanaman atau crop circle di daerah persawahan di Gunung Suru, Jogotirto, Berbah, di Sleman. Pihak kepolisian yang menyelidiki bahkan telah mengabadikan foto langka tersebut sebagai dokumentasi. Lingkaran tanaman di ladang tersebut diyakini sebagai kejadian yang pertama di Indonesia dan juga disaksikan para warga sekitar tempat kejadian tersebut walaupun cuaca hujan dan tidak baik. Para warga sendiri meyakini lambang tersebut adalah simbol pendaratan pesawat UFO dari planet lain. Seorang anak kecil mengaku melihat kejadian tersebut saat cuaca buruk di hari itu dan menyebutkan bahwa sebuah angin puting beliung terlihat naik turun di ladang tersebut dan membentuk lambang misterius tersebut.

Tanggapan ilmuwan

Astronom Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa lingkaran tanaman tidak disebabkan UFO, melainkan buatan manusia. Menurut Thomas, Fenomena yang sama di banyak negara lain membuktikan bahwa lingkaran tanaman adalah rekayasa buatan yang tujuannya dapat sebagai karya seni, komersial, maupun hanya lelucon kreatif. Meski pola yang digambarkan lingkaran tanaman terkadang terlihat rumit dan susah, banyak orang yang membuat lingkaran tanaman di berbagai negara-negara lain.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS